Bongkarnews.id | Sungguminasa Gowa – Di tengah dinamika pembangunan di Kabupaten Gowa, sebuah kabar baik berhembus melalui angka statistik. Ekonomi Kabupaten Gowa dilaporkan tumbuh sebesar 6,67 persen pada Triwulan III 2025 (yoy). Pencapaian ini memantik respons hangat dari Ketua Bappilu DPC Partai Demokrat Gowa, Rais Mone. 09 februari 2025
_Mengawali analisanya, Rais Mone menyelipkan narasi sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras kolektif di daerah ini: “Angka 6,67 persen adalah sebuah simfoni harapan yang ditulis di atas kertas statistik. Kita patut bersyukur dan memberikan apresiasi, sebab di balik angka itu, ada peluh para pekerja dan deru mesin pembangunan yang tak kenal lelah. Selamat atas capaian ini, sebuah prestasi yang melukis senyum di wajah birokrasi kita.”
Namun, Rais Mone mengingatkan bahwa sebuah lukisan angka yang indah barulah bermakna jika warnanya benar-benar meresap ke dalam pori-pori kehidupan rakyat kecil. Ia memberikan catatan kritis agar pertumbuhan ini tidak berhenti sebagai “kebahagiaan statistik”, melainkan benar-benar menetes menjadi keberkahan di setiap dapur warga.
*I. Bedah Kritis: Mengapa Angka Tinggi Masih Terasa “Asing”?*
Rais Mone menyoroti tiga pilar utama yang diduga menjadi mesin penggerak angka 6,67 persen tersebut, namun masih menyimpan celah ketimpangan:
*_Dominasi Sektor Padat Modal (Real Estate)_*: Pertumbuhan disinyalir kuat didorong oleh masifnya sektor konstruksi dan perumahan elit. “Kita bangga Gowa kian bersolek, namun jika beton-beton ini tumbuh di atas hilangnya lahan tani dan keringat petani, maka ia menjadi pertumbuhan yang eksklusif. Rakyat jangan hanya menjadi saksi bisu di pinggir jalan tol kemajuan,” tegas Rais Mone.
*_Paradoks Daya Beli vs Inflasi Pangan_*: Di balik angka pertumbuhan yang melangit, kenyataan di pasar-pasar tradisional Gowa menunjukkan daya beli masyarakat masih tertekan. Menurut Rais, pertumbuhan 6,67% harusnya menjadi “obat penawar” bagi mahalnya harga beras dan kebutuhan pokok bagi warga kelas bawah.
*_UMKM Lokal di Tengah Gempuran Ritel_*: Pertumbuhan perdagangan seringkali lebih banyak dinikmati oleh ritel modern berjejaring. “UMKM lokal Gowa harus diproteksi agar bisa ‘naik kelas’, bukan sekadar menjadi penonton di rumah sendiri saat modal raksasa merambah hingga ke jantung desa,” tambahnya.
*II. Respon Solutif: Jalan Keluar untuk Ekonomi Berkeadilan*
Sebagai bagian dari fungsi kontrol kebijakan, Ketua Bappilu Demokrat Gowa ini menawarkan peta jalan (roadmap) solutif agar ekonomi Gowa lebih inklusif:
*Wajib Serap Tenaga Kerja Lokal*: Menuntut komitmen investasi agar memprioritaskan minimal 80% tenaga kerja lokal Gowa. “Kemajuan daerah haruslah menjadi lapangan pekerjaan bagi anak-anak kandung Gowa sendiri,” ujar Rais.
*Moratorium & Zonasi Ritel Modern*: Mengatur ulang izin ritel modern untuk melindungi warung kelontong dan pasar tradisional agar sirkulasi uang tetap berputar di tangan rakyat kecil.
*Kedaulatan Lahan Pertanian*: Memperketat alih fungsi lahan produktif demi menjaga stabilitas harga pangan lokal secara mandiri.
*Stimulus UMKM Berbasis Produksi*: Membuka akses permodalan dan teknologi bagi pelaku mikro agar mereka tidak sekadar bertahan, tapi mampu tumbuh menjadi produsen yang tangguh.
“Bagi kami di Demokrat, selamat atas angka 6,67 persen tersebut. Namun, tugas suci kita adalah memastikan bahwa simfoni angka ini tidak berakhir sunyi di telinga rakyat yang masih kesulitan. Kita ingin melihat rakyat Gowa tersenyum karena sembako murah, lapangan kerja yang mudah dijangkau, Kesejahteraan dan Pemberdayaan Ekonomi Kecil”, tutup Rais Mone.












